Dylan oh Dylan

e007-5-dylan
Bob Dylan at home, smoking in yard, Woodstock, NY / Photographer Douglas Gilbert

Dari pada sibuk menebar kebencian, mari sejenak bersama-sama mengingat kembali seseorang yang selalu membawa pesan perdamaian di setiap liriknya.

http://news.sky.com/story/bob-dylan-did-he-deserve-the-2016-nobel-prize-in-literature-10615471

Dari pada sibuk menebar kebencian (lagi), mari sejenak bersama2 belajar dari wanita yang selalu berjuang untuk melestarikan alam di Tanah Leluhurnya.

http://rilis.id/2016/10/11/pidato-aleta-baun-getarkan-forum-kebudayaan-dunia/ Dylan menulis lagu Blowin’ In The Wind ketika umurnya 22 tahun saat terjadi Perang Vietnam.

Aleta Baun berjuang melestarikan alam dari tahun 1990 ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus, NTT mulai dirambah industri tambang. Baru pada tahun 2007 operasi tambang tersebut dihentikan.

Mereka gelisah, gelisah bukan karena agama mereka diinjak2 lalu memberontak dengan cara menebar kebencian lalu tiba2 menjadi penyebar tausiah yang menyelipkan suatu ayat. Mereka gelisah atas nama kemanusiaan!

Dan sepertinya kita harus memikirkan kembali kalimat ini “yang agaknya kita abaikan pada tahun 1998: membuat kesepakatan dan mendefinisikan Indonesia kembali” yang ditulis Leila S Chudori di link berikut http://australiaindonesiacentre.org/essay-series-redefining-indonesia-leila-s-chudori/

Selamat atas Nobel Prize nya dan Terima kasih Dylan untuk selalu mengingatkan “sudahkan kita berkarya untuk perdamaian?”

Terima kasih Mama Aleta untuk selalu mengingatkan “sudahkan kita berjuang untuk kemakmuran Tanah Leluhur?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s