Damai di Desa Tertinggi Pulau Jawa

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu itulah INDONESIA”

Indonesia negeri dimana beribu-ribu pulau singgah didalamnya dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Pulau Jawa merupakan pulau terbesar di Indonesia, banyak suku yang ada didalamnya, salah satunya adalah suku Tengger, suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru, Jawa Timur yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Malang. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-“teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-“ger”.

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan leluhur. Salah satunya adalah Desa Ngadas, Malang yang berada di dalam area teritorial Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) dengan ketinggian sekitar 2.150 mdpl sehingga merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Yang unik dari desa ini adalah masyarakatnya yang menganut berbagai agama ada Hindu, Budha, dan Islam. Namum mereka hidup dengan harmonis tanpa adanya perselishan yang mengatas namakan perbedaan agama karena mereka saling terikat dengan adat istiadat.

Di Desa Ngadas terdapat berbagai macam kekayaan, baik kekayaan alam dan budaya sehingga banyak para turis lokal maupun mancanegara yang datang. Kekayaan alam di Ngadas menjadikan masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai Petani. Mereka pun tidak akan menjual tanah mereka ke siapapun. Sedangkan untuk kebudayaan setiap tahunnya dilaksanakan upacara keagamaan dan upacara adat sesuai dengan penanggalan Saka. Seperti Entas-Entas, Wolo Goro (upacara pernikahan), Tugel Kuncung, Tugel Gombag, Penditanan untuk semua dukun, Sayut (upacara adat 7 bulanan wanita hamil), Kekerik (upacara lepas pusar bayi) dan Among-among (upacara bagi anak yang sudah mulai bisa bekerja menghasilkan uang). Ada juga upacara tahunan yang cukup beragam. Misalnya upacara Pujan, Kasada, Karo, Unan-Unan, Barikan, Mayu Dusun, dan Galungan.

Walaupun masyarakatnya menganut berbagai agama, namun mereka menyerahkan semuanya ke seorang Dukun yang ditunjuk secaraturun menurun untuk berperan dalam segala ritual adat baik itu perkawinan, kematian atau kegiatan lainnya. Hal inilah yang menjadikan kehidupan masyakat Desa Ngadas penuh dengan kedamaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s