Surat ke 17 di Tahun 17

Hari itu lima belas tahun lalu, dengan kebaya kutu baru yang melekat dibadanmu, kain batik yang melilit di pinggang sampai kakimu dan turban yang menutupi kepalamu, kau lambaikan tangan sambil sesekali menyeka air matamu. Ya kita harus berpisah….Aku melihat segala pilu yang ada didirimu yang kau tahan, mungkin kalau saat itu kau punya kekuatan fisik yang mumpuni kau sudah berlari untuk mengejar kami, tapi sayang kau hanya bisa tertegun mengahadapi perpisahan ini. Kau lebih memilih untuk bertahan di rumahmu, tempat dimana kau lahir dan dibesarkan. Kau lebih memilih untuk berbakti kepada suamimu, Kakekku, kau lebih memilih untuk mengajar murid-muridmu dan kau lebih memilih untuk merawat ladangmu.

Di rumah ini kau bersama suamimu, berdua menghabiskan waktu untuk menua bersama. Segala doa, cinta dan kasih sayang yang kau sajika terhimpun didalamnya. Namun kini ia sepi, terasa hampa tanpa kau pemilik dari segala-galanya yang ada disini. Suamimu kini pun sudah tiada, ia menyusulmu setelah setahun kepergianmu. Namun ia sedikit beruntung dibandingmu karena ia bisa tidur dengan tenang selamanya dirumah ini sesuai dengan permintaannya. Murid-muridmu pun kadang masih suka mengenang dan bercerita tentangmu. Ladangmu pun masih terjaga baik sampai detik ini dan tak kurang seiinci pun.

Kamu pasti bahagia bukan mendengarnya?

Setelah mengenang kejadian lima belas tahun yang lalu. Aku baru sadar ternyata berpisah dari anak lebih berat dibanding dengan hal rumit apapun didunia ini. Aku disadarkan ketika sekarang ini aku harus terpisah sejauh ratusan kilo meter dengan anakmu, anakmu yang melahirkanku. Akhirnya aku sadar kesabaranmu cukup teruji untuk mengatasi hari-hari penuh rindu dengan anakmu yang saat itu aku bersama anakmu hanya bisa tinggal semalam di rumahmu, dan baru akan mengunjungimu kembali setahun kemudian. Ya terkadang kita memang sengaja membuat jarak agar ada rindu yang menengahinya.

Tahun pun berlalu kau kini memang sudah tiada tapi segala kenangan tentangmu tetap tersimpan rapi di rumah ini tanpa sedikitpun perubahan. Ragamu memang sudah melebur di tanah, tapi cintamu akan selalu terpatri disini, dihati kami. Dan dihari ini, hari dimana aku memasuki usia yang semakin menua aku hanya ingin menyampaikan terima kasih atas segala cinta dan kasih sayang yang kau berikan kepada kami. Sungguh aku rindu!

Untuk Nenek dan Abah Ende percayalah segala doa akan terus dipanjatkan tiada henti untuk kalian disana. Selamat berbahagia karena telah Merdeka dari dunia yang fana ini.

Dari Cucu pertamamu

Pelem, 17 Agustus 2017

 

*lokasi : Cinangka, Serang, Banten

A1A2A3A4A5A6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s