Menuju 2017!

Memilih tinggal di kamar disaat malam tahun baru mungkin ini lah keputusan yang tepat diawal tahun ini. Diiringi playlist di laptop sambil memikirkan “oh Tuhan tahun ini saya memasuki usia yang matang loh, tapi saya belum melakukan apa-apa yang berarti”. Pastinya banyak harapan ditahun yang baru ini. Entah mengapa saya sungguh ingin cepat-cepat mengakhiri tahun 2016, padahal tahun 2016 cukup memberikan pelajaran  yang sungguh terkenang disepanjang hidup saya nanti. Percayalah. Sayang saya belum bisa mendeskripsikannya untuk sekarang. Jadi beginilah, disaat orang-orang sibuk posting ini itu berkaitan dengan tahun baru, saya memilih memotret dengan menggunakan hp yang baru saya beli 3 bulan lalu setelah 3 tahun pula saya tidak pernah ganti hp. Dan akhirnya diawal tahun ini saya mencoba bercerita lewat ruang yang setiap hari saya bergelimang didalamnya. Selamat tahun baru dan selamat memasuki ruang baru 🙂

Mendaki Si Cantik Rinjani

“Sebuah bangsa tidak akan kehilangan sosok pemimpin selama pemudanya sering bertualang di hutan,gunung, dan lautan.” ― Henry Dunant 
Indonesia memiliki  gunung berapi terbanyak di dunia, yaitu berjumlah 127 Gunung berapi. Oleh sebab itu menjadi merupakaan negara yang rentan terhadap bencana. Rinjani merupakan Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3726 mdpl setelah Kerinci. Lokasinya ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Jalur masuk pendakian bisa melalui desa Sembalun, Senaru dan Torean. Namun kebanyakan para pendaki memilih jalur Senaru karena bisa meminimalisir jarak sampai 700 meter. Selain itu jalur ini merupakan hamparan padang savana sehingga pendaki dimanjakan dengan keindahan  pemandangan disana.
Setiap tahun Rinjani mengalami peningkatan kunjungan turis baik luar negeri ataupun dalam negeri. Pada tahun 2015 jumlah kunjung wisatawan di Taman Nasional Gunung Rinjani sebanyak 70.705 orang (wisman 27.186 orang dan wisnu 43.519 orang) meningkat sebanyak 9.013 orang atau sebanyak 14,61% dari tahun 2014.
Hal ini karena banyak spot yang ditawarkan oleh Rinjani, yaitu Padang Savana Sembalun, Palawang Sembalu, Danau Segara Anak, Palawang Senaru dan Puncak. Maka tidak heran bila Gunung Rinjani dijuluki sebagai Gunung Tercantik di Indonesia.

Damai di Desa Tertinggi Pulau Jawa

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu itulah INDONESIA”

Indonesia negeri dimana beribu-ribu pulau singgah didalamnya dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Pulau Jawa merupakan pulau terbesar di Indonesia, banyak suku yang ada didalamnya, salah satunya adalah suku Tengger, suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo dan Gunung Semeru, Jawa Timur yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Malang. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-“teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-“ger”.

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan leluhur. Salah satunya adalah Desa Ngadas, Malang yang berada di dalam area teritorial Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) dengan ketinggian sekitar 2.150 mdpl sehingga merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Yang unik dari desa ini adalah masyarakatnya yang menganut berbagai agama ada Hindu, Budha, dan Islam. Namum mereka hidup dengan harmonis tanpa adanya perselishan yang mengatas namakan perbedaan agama karena mereka saling terikat dengan adat istiadat.

Di Desa Ngadas terdapat berbagai macam kekayaan, baik kekayaan alam dan budaya sehingga banyak para turis lokal maupun mancanegara yang datang. Kekayaan alam di Ngadas menjadikan masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai Petani. Mereka pun tidak akan menjual tanah mereka ke siapapun. Sedangkan untuk kebudayaan setiap tahunnya dilaksanakan upacara keagamaan dan upacara adat sesuai dengan penanggalan Saka. Seperti Entas-Entas, Wolo Goro (upacara pernikahan), Tugel Kuncung, Tugel Gombag, Penditanan untuk semua dukun, Sayut (upacara adat 7 bulanan wanita hamil), Kekerik (upacara lepas pusar bayi) dan Among-among (upacara bagi anak yang sudah mulai bisa bekerja menghasilkan uang). Ada juga upacara tahunan yang cukup beragam. Misalnya upacara Pujan, Kasada, Karo, Unan-Unan, Barikan, Mayu Dusun, dan Galungan.

Walaupun masyarakatnya menganut berbagai agama, namun mereka menyerahkan semuanya ke seorang Dukun yang ditunjuk secaraturun menurun untuk berperan dalam segala ritual adat baik itu perkawinan, kematian atau kegiatan lainnya. Hal inilah yang menjadikan kehidupan masyakat Desa Ngadas penuh dengan kedamaian.

Sore di Situ Gintung

Ketika sang surya mulai meredup, ketika kicau burung beradu dengan semilir angin  dan ketika kita masih bisa menghirup udara segar, ya ini merupakan suatu kemewahan tersendiri untuk orang-orang yang mungkin tidak bisa menikmatinya di Kota.

Situ Gintung berada tepat berada di perbatasan antara Jakarta Selatan – Tanggerang Selatan. Memiliki luas 21 ha dan dibangun sekitar tahun 1932 – 1933 oleh pemerintah Belanda yang awalnya sebagai waduk tempat penampungan air hujan dan untuk perairan lahan pertanian disekitarnya. Hingga pada tanggal 27 Maret 2009 sekitar jam 04.00 WIB Situ Gintung mengalami kebobolan tanggul sehingga air tumpah ke pemukiman dibawah tanggul yang menyebabkan 100 orang meninggal.

Seiiring berjalannya waktu perbaikan pun mulai dibenahi oleh pemerintah yang rampung pada tahun 2011 silam. Sampai sekarang Situ Gintung masih berdiri kokoh dan tak pernah meluap kembali. Kini ia menjelma menjadi wahana wisata yang digemari oleh warga pinggir Jakarta karena murah meriah. Warga sering memanfaatkannya untuk berolahraga, memancing, atau sekedar menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman.

Jadi untuk apa jauh-jauh ke luar kota kalau disini pun  kita masih bisa menikmati hangatnya matahari, nyiur angin dari pohon-pohon dan gemericik air yang mendayu-dayu.

12345678

Dylan oh Dylan

e007-5-dylan
Bob Dylan at home, smoking in yard, Woodstock, NY / Photographer Douglas Gilbert

Dari pada sibuk menebar kebencian, mari sejenak bersama-sama mengingat kembali seseorang yang selalu membawa pesan perdamaian di setiap liriknya.

http://news.sky.com/story/bob-dylan-did-he-deserve-the-2016-nobel-prize-in-literature-10615471

Dari pada sibuk menebar kebencian (lagi), mari sejenak bersama2 belajar dari wanita yang selalu berjuang untuk melestarikan alam di Tanah Leluhurnya.

http://rilis.id/2016/10/11/pidato-aleta-baun-getarkan-forum-kebudayaan-dunia/ Dylan menulis lagu Blowin’ In The Wind ketika umurnya 22 tahun saat terjadi Perang Vietnam.

Aleta Baun berjuang melestarikan alam dari tahun 1990 ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus, NTT mulai dirambah industri tambang. Baru pada tahun 2007 operasi tambang tersebut dihentikan.

Mereka gelisah, gelisah bukan karena agama mereka diinjak2 lalu memberontak dengan cara menebar kebencian lalu tiba2 menjadi penyebar tausiah yang menyelipkan suatu ayat. Mereka gelisah atas nama kemanusiaan!

Dan sepertinya kita harus memikirkan kembali kalimat ini “yang agaknya kita abaikan pada tahun 1998: membuat kesepakatan dan mendefinisikan Indonesia kembali” yang ditulis Leila S Chudori di link berikut http://australiaindonesiacentre.org/essay-series-redefining-indonesia-leila-s-chudori/

Selamat atas Nobel Prize nya dan Terima kasih Dylan untuk selalu mengingatkan “sudahkan kita berkarya untuk perdamaian?”

Terima kasih Mama Aleta untuk selalu mengingatkan “sudahkan kita berjuang untuk kemakmuran Tanah Leluhur?”

Melepas Rindu di Puncak bersama Nenek dan Abah

“All of life is an act of letting go, but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye” – Life of Pi–
Nenek dan Abah Ende begitu aku memanggil mereka berdua. Nenek berasal dari Desa Malang Nengah dan Abah berasal dari Desa Kupu-Kupu, kedua Desa tersebut berada di Pesisir Pantai Anyer, Banten. Nenek meninggal ditahun 2011 akibat penyakit stroke yang diidapnya selama 10 tahun. Sedangkan Abah meninggal ditahun 2013 akibat tumor yang tumbuh di matanya padahal ia masih cukup gagah untuk ukuran lelaki yang masih bisa mencangkul diumur 80 tahun an. Namun sayang keduanya meninggal ketika aku tidak berada disampingnya.
Nenek menjadi wanita yang sangat sibuk dimasa hidupnya. Ia bekerja sebagai Guru Agama di salah satu Madrasah di Desa sebrang, ia juga sering dipanggil untuk menjadi tukang sunat. Sewaktu kecil Nenek sering mengajakku berjalan dari Desa satu ke Desa lainnya untuk mengadiri acara pengajian atau sekedar memberi bakulan (biasanya berisi nasi, kue basah dan lauk pauk) ke rumah saudara . Sedangkan Abah tidak bisa hidup tanpa ladang, ia setiap hari mencangkul untuk menanam sayuran dan buah-buahan lalu dijual kembali ke tengkulak. Ia juga selalu mengajakku berjalan berkilo-kilo meter melewati hutan liar dan sungai-sungai untuk ke Desa sebrang guna menengok sanak saudara atau berziarah kubur ke makam nenek moyang.
Dari sini lah mereka banyak mengajariku tentang pentingnya berproses untuk suatu tujuan, mereka benar-benar mengajariku untuk mencintai kesabaran lalu bersyukur kepada yang Kuasa. Bahkan ketika 2 bulan sebelum Abah meninggal ia berpesan “kejarlah cita-citamu, kamu sudah kuliah lalu lulus pun Abah sudah senang, tapi jangan berhenti disitu karena yang paling penting dalam hidup adalah bagaimana kita harus bisa berguna untuk orang lain, seperti Nenekmu”.
Nek, Bah walau kita tidak sempat mengucapkan perpisahan tapi aku berjanji untuk selalu membawa kalian menuju puncak dan kita akan bertemu disana untuk melepas rindu.
2,958 mdpl
2,958 mdpl
2,211 mdpl
2,211 mdpl
3,726 mdpl
3,726 mdpl

Hari Minggu Terakhir di Kalijodo

Kalijodo merupakan wilayah yang terletak di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Barat. Memiliki luas lahan 1.847 meter persegi dengan jumlah penduduk 3,052 jiwa dan 1.340 Kepala Keluarga. Sejak jaman dahulu pada tahun 1600-an kawasan ini memang sudah dikenal  dengan kawasan prostitusi yang dulu asal mulanya merupakan tempat persinggahan etnis Tionghoa yang mencari gundik atau selir.
Para calon gundik ini mayoritas didominasi oleh perempuan lokal. Perempuan yang akan menjadi gundik disebut Cau Bau. Cau Bau dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan pelacur. Dan dari sinilah mulai berlangsung aktivitas seksual dengan transaksi uang.
Seeiring berjalnnya waktu, Kalijodo berkembang menjadi tempat hiburan yang tidak hanya diincar etnis Tionghoa saja tapi juga pribumi. Akibatnya Kalijodo berubah menjadi tempat pelacuran sesungguhnya. Bahkan semakin ramai sejak Kramat Tunggak ditutup.
Sebenarnya kawasan Kalijodo sudah direncanakan akan ditertibkan dari tahun 2014, namun tertunda karena pemerintah saat itu sedang fokus ke penertiban waduk pluit. Hingga pada akhirnya terjadi kecelakaan ‘Fortuner Maut’ yang mengakibatkan 4 korban tewas setelah pengemudinya minum-minuman keras sepulang dari Kalijodo. Dan dari sini pemerintah mulai merelokasi kawasan tersebut.
Sehingga pada hari Senin tanggal 29 Februari 2016 kawasan ini dibongkar atas perintah Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok untuk kepentingan pembuatan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau. Dan inilah yang tersisa di H-1 sebelum kawasan ini dibongkar, di tahun kabisat mereka menutup hari minggu terakhirnya dengan penuh duka cita untuk memulai kehidupan baru dengan semangat baru. 
1 2
3

4

5

6

7

8

9

10