Menuju 2017!

Memilih tinggal di kamar disaat malam tahun baru mungkin ini lah keputusan yang tepat diawal tahun ini. Diiringi playlist di laptop sambil memikirkan “oh Tuhan tahun ini saya memasuki usia yang matang loh, tapi saya belum melakukan apa-apa yang berarti”. Pastinya banyak harapan ditahun yang baru ini. Entah mengapa saya sungguh ingin cepat-cepat mengakhiri tahun 2016, padahal tahun 2016 cukup memberikan pelajaran  yang sungguh terkenang disepanjang hidup saya nanti. Percayalah. Sayang saya belum bisa mendeskripsikannya untuk sekarang. Jadi beginilah, disaat orang-orang sibuk posting ini itu berkaitan dengan tahun baru, saya memilih memotret dengan menggunakan hp yang baru saya beli 3 bulan lalu setelah 3 tahun pula saya tidak pernah ganti hp. Dan akhirnya diawal tahun ini saya mencoba bercerita lewat ruang yang setiap hari saya bergelimang didalamnya. Selamat tahun baru dan selamat memasuki ruang baru 🙂

Dylan oh Dylan

e007-5-dylan
Bob Dylan at home, smoking in yard, Woodstock, NY / Photographer Douglas Gilbert

Dari pada sibuk menebar kebencian, mari sejenak bersama-sama mengingat kembali seseorang yang selalu membawa pesan perdamaian di setiap liriknya.

http://news.sky.com/story/bob-dylan-did-he-deserve-the-2016-nobel-prize-in-literature-10615471

Dari pada sibuk menebar kebencian (lagi), mari sejenak bersama2 belajar dari wanita yang selalu berjuang untuk melestarikan alam di Tanah Leluhurnya.

http://rilis.id/2016/10/11/pidato-aleta-baun-getarkan-forum-kebudayaan-dunia/ Dylan menulis lagu Blowin’ In The Wind ketika umurnya 22 tahun saat terjadi Perang Vietnam.

Aleta Baun berjuang melestarikan alam dari tahun 1990 ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus, NTT mulai dirambah industri tambang. Baru pada tahun 2007 operasi tambang tersebut dihentikan.

Mereka gelisah, gelisah bukan karena agama mereka diinjak2 lalu memberontak dengan cara menebar kebencian lalu tiba2 menjadi penyebar tausiah yang menyelipkan suatu ayat. Mereka gelisah atas nama kemanusiaan!

Dan sepertinya kita harus memikirkan kembali kalimat ini “yang agaknya kita abaikan pada tahun 1998: membuat kesepakatan dan mendefinisikan Indonesia kembali” yang ditulis Leila S Chudori di link berikut http://australiaindonesiacentre.org/essay-series-redefining-indonesia-leila-s-chudori/

Selamat atas Nobel Prize nya dan Terima kasih Dylan untuk selalu mengingatkan “sudahkan kita berkarya untuk perdamaian?”

Terima kasih Mama Aleta untuk selalu mengingatkan “sudahkan kita berjuang untuk kemakmuran Tanah Leluhur?”

Nasi Uduk Mpok Eneng


img_20160917_055012-01

Pagi ini, setelah semalam suntuk mata belum juga bisa diistirahatkan sekitar jam 6 kurang saya memutuskan untuk mampir ke warungnya Mpok Eneng. Setiap harinya dia jualan Nasi Uduk di Kampung Utan, tepatnya berada di depan SD saya bersekolah dan juga di samping SMP & Kampus saya menimba ilmu. Dia asli betawi, jadi bisa dibayangin dong gimana lezatnya.

Saya sudah dicekokin Nasi Uduknya setiap hari dari umur 6 tahun sampai 12 tahun. Wajar, sampai sekarang saya jadi ga doyan Nasi Uduk ditempat lain (kecuali Nasi Uduk Mpok Iyoh, Gintung + Depan Fedex, Pondok Pinang, keduanya ga buka di pagi hari), makanya makan Nasi Uduk pagi-pagi buat saya suatu kemewahan! mewah karena saya juga ga bisa makan nasi di pagi hari kecuali ya ini Nasi Uduk Mpok Eneng.

Mpok Eneng sudah jualan disini berpuluh-puluh tahun, anehnya postur dia ga berubah-ubah, mukanya masih sama kaya dulu pertama saya lihat di umur 6 tahun, badannya juga masih kecil padahal sudah punya anak. Dia juga masih ingat tentang saya waktu kecil, orang tua dan teman-teman saya. Dia pun masih hapal takaran Nasi Uduk saya “Nasi Uduk kuahnya penuh kan lis?” dan bisa dipastikan rasa Nasi Uduknya masih sama kaya dulu makanya jangan kaget kalau jam 8 pagi sudah ludes hehe. Ppstt jangan khawatir soal harga tadi saya beli 4 bungkus Nasi Uduk + Semur Telor + Gorengan cuma ngeluarin uang 31 ribu saja 🙂

Mpok Eneng ini menjadi wanita andalan, ia jualan Nasi Uduk dari gadis untuk membiayai seluruh keluarganya. Salah satunya adiknya, teman saya satu sekolah dari SD sampai SMP bahkan teman saya dibiayai Mpok Eneng sampai kuliah! setiap saya kesana ia selalu terharu kalau adiknya bisa sarjana dari hasil kerja kerasnya. Dan kalimat yang pasti diucapin setiap saya mau pamitan adalah “Salam ya buat Mama, Mama lw sebelum buka ini bungkusan juga udah pasti tau ini Nasi Uduk gw” ah Mpok Eneng kamu bukan hanya mengajari saya pantang menyerah tapi juga rendah hati!

Raja dan Ratu Rimba

Siang ini, sambil melahap makanan yang ada di piring, saya menonton salah satu channel Tv yang sedang memutar program “Hunter Wild Animal” saat itu mereka sedang membahas Singa si Raja Hutan. Dalm risetnya mereka menyatakan bahwa sebenarnya penguasa hutan bukanlah Singa Jantan melainkan si Betina. Kenapa? karena Singa Betina merupakan sosok yang sangat bisa diandalkan dalam mengurus anak, mereka tegas! mereka tidak akan menyusui yang bukan anaknya sendiri bahkan ketika Singa Betina sedang mencari mangsa ia akan merekrut kawannya untuk menjaga anak-anaknya. Ia menjadi sosok Ibu yang pintar untuk membesarkan anak-anaknya. Selain itu, Singa Betina hewan militan garis keras, ia bisa menangkap mangsanya sendiri tanpa bantuan singa lain hal ini yang tidak bisa dilakukan oleh Singa Jantan. Ppfft.

Singa Jantan sayangnya hanya bisa menangkap mangsa dengan cara berkelompok, hal ini karena ia memiliki rambut tebal ditengkuknya sehingga menghambatnya ketika berlari untuk mengincar mangsa. Sebab itu Singa Jantan sering sekali bermalas-malasan. Parahnya lagi ketika ia sudah dapat mangsa Singa Jantan tidak akan membagi makanannya ke anak-anaknya. Hal ini berbeda dengan Singa Betina yang merelakan mangsanya untuk anak-anaknya. Sungguh nyatanya di dalam rimba, Singa Jantan benar-benar mengandalkan Singa Betina!

Dari sini bisa dibayangkan bukan gimana beruntungnya jika memiliki pasangan wanita berzodiak “LEO” HAHAHAHAHA 🙂

G R E E K !

santorini-greece-696x348
Santori, Greece / foundtheworld.com

11 tahun lalu saya ingat sekali kejadian saat itu, saat saya masih memakai seragam merah putih. Tepat sore hari sepulang sekolah saya langsung menyalakan televisi, lalu muncul film drama ntah itu berasal dari Taiwan, Cina atau Korea, saya pun tak paham karena film drama itu sudah di dubing menjadi bahasa Indonesia. Saat itu saya hanya fokus pada latar dibelakang yang indah sekali, laut-laut dengan warna birunya, bagunan-bangunan putih yang berjejer secara teratur, langit sore yang cantik sekali hingga saya pun tak pernah ketinggalan untuk menonton serial film drama tersebut. Tanpa mengikuti alur cerita saya terpesona didalamnya, cukup hanya melihat indahnya tempat di film tersebut sampai pada akhirnya saya tahu kalau itu di sebuah negeri di Benua Eropa nun jauh disana.

Setahun kemudian saya lulus dr SD dan melanjutkan ke SMP, saya ingat, ingat sekali saat itu dikelas saya sedang belajar mata pelajaran Biologi tentang “Mahluk Hidup”, sosok pertama yang dikenalkan guru saya adalah Aristoteles, ia juga bercerita bahwa Aristoteles lah yang pertama kali mencetuskan bahwa manusia, hewan dan tumbuhan adalah “Makhluk Hidup”, dan dia berasal dari Yunani. Tidak cuma sampai situ di berbagai mata pelajaran saya mulai mengenal sosok-sosok filsuf dari Yunani. Betapa hebatnya bukan Yunani pada saat itu, bahkan kalau boleh mengingat-ingat beberapa tahun lalu anggota DPR ramai-ramai terbang kesana hanya untuk belajar ETIKA !